“Jo, kamu tau gak Thomas Alva Edison?”
“Penemu bohlam yang terkenal itu kan?”
“Iya. Dia itu punya kesamaan sama kamu.”
Dengan muka sumringah dan mata berbinar-binar Jojo bertanya pada saya “Oh ya, apanya yang sama????”
“Sama-sama dikatain sama gurunya ‘Lemot. Idiot’. “
Seketika muka Jojo langsung berubah datar dan matanya menatap saya dengan tajam. Melihat perubahan ekspresinya, saya langsung tertawa ngakak. Sebenarnya saya Cuma niat ngisengin Jojo. Soalnya saya selalu pusing luar biasa tiap ngajarin dia. Dia gak pernah mau serius. Tiap saya ngajarin, tangannya selalu mencet-mencet BB, atau benerin jam, atau foto-foto sana-sini. Berkali-kali saya bilang “Eh Jo, kakak pulang ya. Kamu gak niat belajar.” barulah dia menghentikan ‘kegiatannya’, tapi Cuma beberapa detik. Selanjutnya? Mulai lagi seperti tadi. Looping -__-.
Melihat saya tertawa ngakak, Jojo ngomong”Puaaassss????”
Muka saya kembali datar. “Gak, biasa aja.”
Jojo yang jadi agak pundungan membuat saya agak sedikit merasa bersalah. Supaya agak meredakan rasa bersalah saya, saya mencoba menyampaikan sisi positif dari ‘mirip Thomas Alva Edison’ tersebut.
“Kamu tau gak Jo, Edison itu kan di sekolahnya nilainya jelek terus, ibunya udah berkali-kali dipanggil sama gurunya. Sampai akhirnya si guru nyerah dan mengeluarkan Edison dari sekolah karena menganggap Edison tidak punya masa depan. Gurunya berkali-kali bilang Edison lemot. Edison idiot. Tapi edison gak nyerah. Ibunya juga gak putus asa dengan kondisi anaknya yang seperti itu. Edison terus-menerus mencoba hingga akhirnya dia menemukan banyak sekali penemuan-penemuan yang berguna bagi kehidupan.”
“Makanya, kamu juga gitu. Gak masalah orang lain bilang kamu lemot, kamu idiot. Yang penting itu kamu punya keinginan untuk berubah gak, punya keinginan untuk mematahkan kata-kata orang itu gak. Ini Cuma masalah kamu serius atau gak untuk mencapai apa yang kamu inginkan.”
Kata-kata saya tadi cukup membuat Jojo terdiam dan tertegun.
Hei tunggu, bukan Cuma Jojo, saya juga.
Selalu, tiap kali saya ‘menasehati orang’ —yang sebenarnya berkilah—, selalu menjadi pukulan telak buat diri saya sendiri. Pada hakikatnya, semua yang kita bicarakan adalah apa yang kita rasakan. Sebenarnya saya tak jauh berbeda dengan Jojo dan anak-anak yang tidak serius lainnya. Saya dengan lancar bisa berkata ini itu kepada Jojo. Dengan mudah bisa membuat dia manggut-manggut dan setuju dengan isi dari pembicaraan saya karena pada hakikatnya saya membicarakan apa yang dia rasakan. Saya membicarakan apa yang dirasakan oleh orang-orang ‘bodoh lemot dan idiot’ itu. Karena saya salah satu dari mereka.
Dua jam privat bersama Jojo, saya pun pamit pulang. Sembari mengantar saya keluar, Jojo ngomong ke ibunya “Ma, tadi Kak Anna ngomong aku mirip Thomas Alva Edison.”
“Oh iya? Bagus dong, penemu terkenal itu kan?”
“Iya, katanya aku dan Thomas Alva Edison punya kesamaan. SAMA-SAMA LEMOT. IDIOT.” Jojo ngomong dengan mata membelalak dan suara yang sangat lantang sambil melirik-lirik ke arah saya.
Mamanya ketawa. Saya nyengir pamit dan langsung mengayuh sepeda. Kabur.